Archive for the ‘ hiburan ’ Category

10 Hal yang tidak Disuka pada waktu Menonton Bioskop

Walaupun Jarang terjadi biasanya selalu ada banyak alasan untuk pergi menonton film sendiri ke bioskop. Dengan begini, kapan pun kita mau, kita bisa menonton film apa pun. Tak perlu khawatir bila teman kita nanti tiba-tiba membatalkan janji di menit terakhir. Menonton sendiri juga lebih menghemat biaya.

Namun, itu semua tidak berarti kita terbebas dari masalah. Berikut ini 10 jenis orang paling menyebalkan di dalam bioskop:

Baca Selanjutnya di http://www.inicinema.com/10-hal-paling-menyebalkan-waktu-menonton-bioskop.html

Review Games PC Portal 2

Portal 2 is a unique first-person Action-Puzzle-Platforming game that tests player’s ability to think and act creatively as they use the game’s ingenious wormhole creating portal gun to produce their own paths through otherwise sealed surfaces and across the open spaces of the game. Sequel to the original Portal game — the surprise add-on hit included in Valve Corporation’s 2007 release The Orange BoxPortal 2 continues the storyline from the first game, featuring both new and returning characters, and poses a range of new challenges making for a much deeper game. Additional features include a new two player co-op mode and an original soundtrack.

continue reading………..

Video Terbaru Briptu Norman Kamaru

Sukses dengan video perdana “”Chaiyya, Chaiyya”,  musisi pendatang baru dadakan Briptu Norman Kamaru hadir kembali dalam video terbarunya. Dalam video keduanya, anggota Brimob Gorontalo itu tidak lagi “lipsync” melainkan menyanyikan sendiri lagu “Cinta Farhat” karya pengacara Farhat Abbas. Video tersebut baru beredar dalam situs jejaring video Youtube pada 11 April lalu. Video berdurasi 3 menit 29 detik ini tercatat sudah dikunjungi lebih dari 50 ribu orang

Kumpulan Tanggapan Film ? Tanda Tanya

Berikut adalah tanggapan film Tanda Tanya dari MUI

Bukan hanya warga Nahdiyin saja yang mengecam film “?” (tanda tanya) garapan Hanung Bramantyo. Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menilai film ini menyebarkan faham Pluralisme Agama yang telah difatwa haram.

Penyebaran faham Pluralisme ini telah dicermati oleh KH A. Cholil Ridwan, Ketua MUI Pusat Bidang Budaya, usai menyaksikan film itu Rabu malam (6/4/2011) di Jakarta.  “Film ini jelas menyebarkan faham Pluralisme Agama yang telah difatwakan sebagai faham yang salah dan haram bagi umat Islam untuk memeluknya,” ujar Cholil dalam penjelasan tertulisnya kepada voa-islam.com, Kamis (7/4/2011).

Sumber (voa-islam)

kesimpulan dan pendapat masing-masing adalah hak mereka, jadi apa kata kita

Indikasi faham pluralisme ini, jelas Cholil, terlihat dalam narasi di bagian awal, “Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama: mencari satu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.”

Dengan pandangan seperti itu, ujar Cholil, pihak pembuat film jelas memposisikan dirinya sebagai seorang non Muslim penganut faham netral agama, karena semua agama dipandang sama-sama merupakan jalan yang sah menuju Tuhan yang sama. Konsep netral agama tak mengenal konsep Tauhid dan Syirik, atau Mukmin dan kafir, sehingga bertolak belakang dengan ajaran Islam.

“Cara pandang seperti ini menunjukkan bahwa pembuat film ini berdiri pada perspektif bukan sebagai seorang Muslim, tetapi sebagai seorang yang netral agama, yang memandang semua agama adalah menyembah Tuhan yang sama,” tegas pengasuh Pesantren Husnayaian Jakarta itu.

Selain itu, papar Cholil, cara pandang pembuat film ini juga bertentangan dengan cara pandang Nabi Muhammad SAW. “Saat Rasulullah diutus sudah ada orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi, dan kaum musyrik Arab. Tapi Nabi Rasulullah menyeru mereka semua agar kembali kepada satu prinsip yang sama (Kalimatin Sawa’), yaitu prinsip Tauhid hanya menyembah Allah semata,” tegasnya sembari mengutip Al-Qur’an surat Ali Imran 64, Maryam 88-91, Al-Ma’idah 73, dan Ash-Shaff:6).

Karenanya, Cholil yang juga Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia ini mempertanyakan keagamaan para pembuat film “?” yang tidak mau memakai agama sebagai dasar pijakan. “Sangat aneh jika seorang mengaku beragama Islam, tetapi melihat agama-agama lain selain Islam, bukan dari kacamata Al-Qur’an, tetapi dari kacamata netral agama,” kritiknya.

Dalam pandangan akidah, lanjut Cholil, film ini sama sekali tidak bisa dibenarkan.

“Film ini mencampuradukkan dan mengacaukan konsep toleransi dan kerukunan dengan konsep “Pluralisme” dalam hal teologis,” kecamnya. “Toleransi tetap bisa terjalin tanpa harus mengorbankan keyakinan keagamaan masing-masing, karena kerukunan umat beragama dapat terwujud bila masing-masing pemeluk agama tetap dengan klaim kebenarannya masing-masing ” imbuhnya.

Setelah menelaah secara kritis mulai dari judul hingga bagian penutup (ending), Kholil Ridwan menyimpulkan bahwa pembuat film “?” ini belum memahami Islam. Karenanya, ia mengimbau agar para pembuat film, terutama sutradaranya, mengkaji Islam secara mendalam agar film-film hasil karyanya tidak sesat dan menyesatkan orang. Sangat tidak beradab, jika seseorang yang mengaku “tidak tahu” atau “belum tahu”, tetapi sudah berlagak sok tahu.

“Saya menyarankan agar Saudara Hanung sebaiknya mengaji yang baik, dan dengan sukarela menyatakan bahwa filmnya memang keliru dan mengelirukan,” imbau Cholil. “Lebih baik lagi, film ini ditarik dari peredaran,” pungkasnya.

Dan Berikutnya adalah tanggapan dari V0a-Islam

Toleransi ala Hanung seperti jalan yang menghantarkan umat ini pada sebuah pendangkalan aqidah dan jembatan menuju Neraka. Aroma pluralisme dalam film ”?” terasa begitu menyengat. Stereotype umat Islam yang buruk, dilukiskan Hanung dengan cara pandang yang lebay, tendensius, dan fatal.

Setelah Film “Perempuan Berkalung Surban” menuai kontroversi, Sutradara Hanung Bramantyo kembali menggarap film terbarunya yang hanya diberi tanda “?” (tanda tanya). Difilm ke-14 nya tersebut, Hanung menggaet beberapa bintang film muda, seperti Reza Rahardian, Revalina S Temat, Agus Kuncoro, Endhita, Rio Dewanto, Hengky Sulaeman, David Chalik, dan Glenn Fredly.

Film ”?” merupakan hasil produksi kerjasama antara Mahaka Picture dan Dapur Film ini, dimana Erick Thohir sebagai Produser Eksekutifnya, Titien Wattimena (penulis naskah), Tya Subiakto (penata musik),  dan Yadi Sugandi (penata fotografi). Untuk lokasi syuting dipilih di kota Semarang, Jawa Tengah.

“Saya pilih tempat di Semarang, karena di sana ada lima agama, tapi tidak pernah terjadi penusukan terhadap umat beragama yang berbeda. Ini sebuah film yang menceritakan kegelisahan saya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Saya ingin berstatmen dalam bentuk film,” tukas Hanung.

Saat menyaksikan launcing pemutaran film berdurasi 100 menit ini di bioskop Jakarta Teater, voa islam mencatat, ada beberapa adegan yang sangat menyengat dan melukai hati umat Islam. Aroma pluralisme sudah bisa dirakan saat melihat poster film itu dengan kata: “masih pentingkah kita berbeda?”. Bahkan Hanung akan memberi doorprize senilai Rp. 100 juta kepada penonton yang memberikan judul untuk film “?” ini.

Melukai Umat Islam

Di awal-awal film itu, penonton sudah disengat dengan hal yang sensitif, seperti  adegan penusukan terhadap seorang pendeta bernama Albertus. Tidak jelas apa motif penusukan yang dilakukan oleh seseorang yang berpenampilan preman tersebut. Meski tidak menunjuk hidung secara langsung, namun ada kesan Hanung hendak menggiring sterotype buruk, seolah yang suka melakukan tindakan anakis datang dari kelompok agama tertentu.

Adegan selanjutnya, tanpa alasan yang jelas pula, sekelompok pemuda Islam bersarung dan berpeci tiba-tiba mencerca seorang keturunan Cina dengan panggilan ”Cino” (menyebut Cina dengan logat Jawa). Dalam film ini, Hanung banyak menggunakan simbolik-simbolik sensasi murahan yang didramatisir, yang berpangkal dari sebuah kemarahan terpendam.

Dangan dalih toleransi, Hanung juga menciptakan adegan seorang Muslimah berkerudung yang merasa nyaman bekerja di sebuah rumah makan (restoran) yang menyajikan daging babi yang diharamkan oleh Islam. Toleransi ala Hanung ingin mengesankan, bahwa muslimah yang diperankan oleh Revalina  S Temat adalah muslimah yang ideal, yang bisa menghargai sebuah perbedaan. Meski tidak sampai memakannya, tidak terlihat kegalauan hati dari seorang Muslimah, seolah daging babi bukan sesuatu yang diharamkan.

Di sela adegan itu, ada seorang Muslimah yang menolak bekerja di sebuah restoran yang sama, dengan alasan prinsip agama yang dipegang. Namun, cara pandang Hanung yang keliru, ingin menunjukkan bahwa Muslimah yang menolak bekerja di restoran Cina karena menyajikan daging babi itu sabagai muslimah yang tidak toleran.

Sang Murtadin

Adegan yang menyesatkan lainnya adalah ketika seorang wanita (diperankan Endhita) yang sebelumnya beragama Islam kemudian berpindah agama alias murtad menjadi seorang pemeluk Nasrani yang taat. Ada sebuah ungkapa yang terlontar dari bibir sang murtadin tadi, bahwa dirinya pindah agama tidak berarti mengkhinati Tuhan.  Pesan yang disampaikan dalam film ini adalah manusia berhak menjadi murtad, dan itu adalah hak asasi yang patut dihargai.

Adegan yang lebih menyengat lagi adalah ketika seorang pemuda Muslim (diperankan Agus Kuncoro) bersedia diajak bermain drama di sebuah gereja pada perayaan Paskah, dengan memerankan sebagai Yesus Kristus. Mulanya hatinya galau, tapi setelah berkonsultasi pada seorang ustadz muda (diperankan oleh David Khalik), ditemukan jawaban yang amat sesat menyesatkan.

Katanya, bahwa untuk menjaga keimanan bukan terletak pada fisik, melainkan hati. Maka masuk gereja, bahkan memerankan aktor sebagai Yesus sekalipun bukan sesuatu yang subhat dan diharamkan. Bagi Hanung, hal itu tak perlu dipersoalkan.

Serasa kontras, usai memerankan Yesus, pemuda muslim yang sehari-hari tinggal di masjid itu pun melafadzkan QS. Al Ikhlas. Hanung ingin menggambarkan, memerankan Yesus bukan ancaman yang bisa mendangkalkan akidah keislaman seseorang. Justru ia semakin shaleh. Inilah kampanye pluralisme yang diusung Hanung.

Kok bisa, QS Al Ikhlas yang menegaskan bahwa Dia (Allah Swt) Tuhan yang Maha Esa. Tuhan tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Tapi oleh Hanung, Al Ikhlas ditafsirkan secara serampangan dengan kacamata pluralis, yang  membenarkan Yesus sebagai anak Tuhan. Setidaknya Hanung memnghantarkan seorang Muslim menjadi hipokrit bahkan musyrik.

Adegan yang terasa lebay juga dilukiskan Hanung, pada saat restoran Cina mengalami kerugian saat memasuki bulan Ramadhan dimana umat Islam sedang berpuasa. Ada kesan, bahwa pelanggan restoran yang suka makan daging babi itu adalah dari umat Islam. Sehingga ketika umat islam sedang menjalankan ibadah puasa, maka restoran pun menjadi sepi. Bahkan pada saat lebaran, pemilik restoran Cina itu lagi-lagi melarang karyawannya untuk libur atau pulang kampung, dengan alasan restoran merugi, karena terlalu lama libur.

Konyolnya, diciptakan insiden penyerangan terhadap restoran Cina itu oleh sekelompok umat Islam dengan membawa kayu dan terjadi tindakan anarkis yang disertai pemukulan. Hanung lagi-lagi membuat stereotype buruk atas umat Islam yang suka dengan anarkis. Bisa dibayangkan, apa mungkin di hari lebaran umat Islam melakukan penyerangan dan perusakan. Hanung yang mengaku Muslim nampak lebay dan tidak waras, dimana umat Islam digambarkan sebagai makhluk yang bengis dan biadab.

Adegan Banser yang menjaga gereja pun digambarkan sebagai hero. Oleh Hanung, Banser NU adalah sebuah pekerjaan yang disediakan untuk para pengangguran, seperti Soleh (diperankan oleh Reza Rahadian). Dari banyak adegan dalam film tersebut, nampak alur cerita yang tidak sistematis, tergesa-gesa, vulgar, sarkasme, sekedar simbolik untuk mendramatisir kisah yang penuh amarah, dan jauh dari kualitas. Film Hanung tak ubahnya ”sampah” yang melukai hati umat Islam.

Hanung sepertinya pura-pura bodoh, ketika ditanya apa itu pluralisme. Bahkan ia mengelak film garapannya itu punya motif untuk mengkampanyekan pluralisme. “Saya tidak mengerti apa itu pluralisme. Nanti, kalau saya bilang, film itu pluralisme, nanti golongan pluralis akan berusaha memanfaatkan. Begitu juga kalau saya bilang ini liberal, nanti mereka akan mengklaimnya juga.”

Jadi istilah pluralisme buat Hanung tidak lagi sesederhana istilahnya saja karena di dalamnya sudah ada muatan politis, pergerakan dan keyakinan. Saya berusaha melepas diri dari itu semua. Saya adalah peribadi yang hanya berusaha memotret semua persoalan yang berkelindan di dalam diri saya.

Ketika ditanya, bagaimana anda memahami pluralisme? Hanung mengaku tidak tahu pluralisme itu apa, karena ia sangat hati-hati dengan istilah pluralisme. “Makanya saya kasih judul film itu hanya tanda tanya,” ujarnya berdalih.

Bila Hanung mempersilahkan penonton memberi judul film “?” ini, maka pantas, jika film ini diberi judul “Sang Murtadin”. Setuju???

Daftar Pemenang Piala Oscar 2011

Ajang Academy Awards ke-83 baru saja digelar di Kodak Theatre di Los Angeles, Minggu (27/2/2011) malam waktu setempat. Berikut ini daftar pemenang lengkapnya.

baca selengkapnya ………….

Daftar Pemenang Piala Oscar 2011

Ajang Academy Awards ke-83 baru saja digelar di Kodak Theatre di Los Angeles, Minggu (27/2/2011) malam waktu setempat. Berikut ini daftar pemenang lengkapnya.

Film Terbaik – The King’s Speech

Aktor Terbaik – Colin Firth – ‘The King’s Speech’

Aktris Terbaik – Natalie Portman – ‘Black Swan’

Sutradara Terbaik
– ‘The King’s Speech’ – Tom Hooper

Aktor Pendukung Terbaik – Christian Bale ‘The Fighter’

Aktris Pendukung Terbaik
– Melissa Leo ‘The Fighter’

Naskah Adaptasi Terbaik
– ‘The Social Network’ – Aaron Sorkin

Naskah Asli Terbaik – ‘The King’s Speech’ – David Seidler

Efek Visual Terbaik
– ‘Inception’

Sinematografi Terbaik – ‘Inception’ – Wally Pfister

Film Animasi Terbaik
– ‘Toy Story 3′ – Lee Unkrich

Film Pendek (Animasi) Terbaik
– ‘The Lost Thing’ – Shaun Tan & Andrew Ruhemann

Film Pendek (Live Action) Terbaik – ‘God of Love’ – Luke Matheny

Documentary (Pendek)
– ‘Strangers No More’ Karen Goodman & Kirk Simon

Film Dokumenter (Feature) – ‘Inside Job’ – Charles Ferguson & Audrey Marrs

Film Asing Terbaik
– ‘In a Better World’ (Denmark)

Desain Kostum Terbaik
– ‘Alice in Wonderland’ – Colleen Atwood

Art Director – ‘Alice in Wonderland’
– Robert Stromberg, Karen O’Hara

Makeup Terbaik – The Wolfman

Musik (Original Score)
– ‘The Social Network” Trent Reznor and Atticus Ross

Sound Editing – ‘Inception’
- Richard King

Sound Mixing – ‘Inception’
– Lora Hirschberg, Gary A Rizzo & Ed Novick

harga jual blackberry iphone laptop murah

harga jual blackberry iphone laptop murah

harga jual blackberry iphone laptop murah

harga jual blackberry iphone laptop murah

harga jual blackberry iphone laptop murah

Web Directory Indonesia

Daftar Pemenang festival film indonesia 2010

Pertama-tama saya minta dukungannya dalam kontes Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesi, kedua saya ucapkan selamat kepada para pemenang FFI 2010

Tahun ini, FFI diikuti 54 film panjang, 67 film pendek dan 60 film dokumenter. Berikut daftar pemenang FFI 2010 yang digelar di Central Park, Jakarta, Senin (6/12/2010) malam:

Film Terbaik : 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (PT Mizan Production)

Sutradara Terbaik :
Benni Setiawan (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

Skenario Cerita Asli Terbaik :
Musfar Yasin (Alangkah Lucunya Negeri Ini)

Skenario Cerita Adaptasi Terbaik :
Benni Setiawan (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

Pemeran Utama Pria Terbaik :
Reza Rahadian (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

Pemeran Wanita Terbaik :
Laura Basuki (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

Pemeran Pendukung Pria Terbaik :
Rasyid Karim (3 Hati 2 Hati 1 Dunia)

Pemeran Pendukung Wanita Terbaik :
Happy Salma (7 Hati 7 Cinta 7 Wanita)

Tata Sinematografi Terbaik :
Roby Herby (I Know What You Did on Facebook)

Penyunting Terbaik :
Aline Jusria (Minggu Pagi di Victoria Park)

Tata Artistik Terbaik :
Oscar Firdaus (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

Tata Musik Terbaik :
Ian Antono dan Thoersi Argeswara (Alangkah Lucunya Negeri Ini)

Tata Suara Terbaik :
Adityawan Susanto dan Novi Dwi R. Nugroho (Alangkah Lucunya Negeri Ini)

Film Dokumenter Terbaik :
Hari-Hari Terakhir Bung Karno

Film Pendek Terbaik :
Kelas 5000-an.

sekali lagi selamat bagi para pemenang, semoga selalu dapat memberikan yang terbaik tuk indonesia

Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesi

Daftar Pemenang festival film indonesia 2010

Pertama-tama saya minta dukungannya dalam kontes Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesi, kedua saya ucapkan selamat kepada para pemenang FFI 2010

Tahun ini, FFI diikuti 54 film panjang, 67 film pendek dan 60 film dokumenter. Berikut daftar pemenang FFI 2010 yang digelar di Central Park, Jakarta, Senin (6/12/2010) malam:

Film Terbaik : 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (PT Mizan Production)

Sutradara Terbaik :
Benni Setiawan (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

Skenario Cerita Asli Terbaik :
Musfar Yasin (Alangkah Lucunya Negeri Ini)

Skenario Cerita Adaptasi Terbaik :
Benni Setiawan (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

Pemeran Utama Pria Terbaik :
Reza Rahadian (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

Pemeran Wanita Terbaik :
Laura Basuki (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

Pemeran Pendukung Pria Terbaik :
Rasyid Karim (3 Hati 2 Hati 1 Dunia)

Pemeran Pendukung Wanita Terbaik :
Happy Salma (7 Hati 7 Cinta 7 Wanita)

Tata Sinematografi Terbaik :
Roby Herby (I Know What You Did on Facebook)

Penyunting Terbaik :
Aline Jusria (Minggu Pagi di Victoria Park)

Tata Artistik Terbaik :
Oscar Firdaus (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

Tata Musik Terbaik :
Ian Antono dan Thoersi Argeswara (Alangkah Lucunya Negeri Ini)

Tata Suara Terbaik :
Adityawan Susanto dan Novi Dwi R. Nugroho (Alangkah Lucunya Negeri Ini)

Film Dokumenter Terbaik :
Hari-Hari Terakhir Bung Karno

Film Pendek Terbaik :
Kelas 5000-an.

sekali lagi selamat bagi para pemenang, semoga selalu dapat memberikan yang terbaik tuk indonesia

Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesi