Kembalikan UI Sebagai Kampus Rakyat yang Merakyat | Apa yang Kau Suka

Adsense Link 728 X 15

Kembalikan UI Sebagai Kampus Rakyat yang Merakyat

May 5th, 2011 1 Comment

Dari seorang Mahasiswa UI :  ANIS MISIYANTI

Bulan Februari lalu tepat 61 tahun UI berdiri di Tengah Masyarakat Indonesia. Di sepanjang perjalananya melayani pendidikan tinggi bagi masyarakat Indonesia, gelar kampus rakyat pun telah disandangnya. Namun, masihkah kini gelar itu pantas ditujukan kepada UI??  KAMPUS RAKYAT, masih pantaskah ???

Bangun kawan!!

Bertepatan dengan hari pendidikan 2 Mei 2011 ini, mari kita mengevaluasi kembali kinerja Universitas Indonesia dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan tinggi yang merakyat. Buka mata kita, lihatlah betapa mahalnya UI kini. Sudah lama kita tertipu dan membenarkan pembenaran angka-angka yang sebenarnya tak jelas juntrungannya. Lihatlah biaya kuliah di UI yang semakin mahal dan semakin tidak jelas sistemnya. Tahukah, pada tahun sebelum tahun 2000 BOP di kampus UI hanya dikisaran Rp. 500.000,00. Ketika terjadi pergantian Rektor, biaya tersebut naik secara drastis menjadi sekitar Rp.1.500.000,00. Bayangkan! Naiknya 3 x lipat! Kenaikan yang begitu dramatis tersebut, menyulut protes dari seluruh kalangan mahasiswa saat itu. Berduyung-duyung kakak-kakak kita memperjuangkan nasibnya di depan gedung Rektorat agar biaya kuliah tidak dinaikkan. Membandingkan dengan kondisi sekarang, kita justru hanya terlihat pasrah dan memaklumi adanya kenaikan BOP yang lebih parah terjadi.

Mulut kita disumpal dengan sistem BOP (B) yang harusnya menjadi satu-satunya sistem pembayaran di UI, namun nyatanya menjadi sistem KERINGANAN. BOP BERKEADILAN awalnya disepakati sebagai sistem pembayaran yang menitikberatkan pada penyesuaian biaya yang harus dibayarkan dengan kemampuan ekonomi orang tua mahasiswa. Pada awal perjalanan penerapan kebijakan ini, sudah terlihat banyak kecacatan. Yang fatal adalah ketika sosialisasi yang berjalan dengan sangat minim sehingga banyak mahasiswa baru 2008 waktu itu yang tidak mengetahui adanya sistem ini, padahal seharusnya SELURUH mahasiswa MENGETAHUI adanya sistem pembayaran ini.

Biaya kuliah di UI terdiri dari UP, BOP, DKFM yang ketiganya tidak jelas pengalokasiannya. Coba bayangkan, kini 1 mahasiswa UI mesti membayar kurang lebih Rp.5.000.000,00 per semester, sedangkan jumlah seluruh mahasiswa UI kurang lebih untuk S1+vokasi  adalah 8000 mahasiswa/angkatan. Mungkin kita yang mendapatkan beasiswa ataupun kita yang berduit masih bisa ongkang-ongkang kaki kuliah di UI karena tidak merasakan tanggungan biaya yang sesungguhnya berada di kisaran yang sangat tinggi tersebut. Tapi pernahkah kita memikirkan adanya ribuan teman kita lainnya yang tidak berkesempatan mendapatkan beasiswa, mesti cari keja sana sini untuk memenuhi biaya kuliah. Mungkin saat ini banyak diantara kita yang masih merasa nyaman dan belum merasakan dampak dari kenaikan-kenaikan biaya kuliah yang semakin tinggi, namun bagaimana dengan teman-teman kita, adik-adik kelas kita yang akan juga melanjutkan kuliahnya, saudara-saudara kita, serta orang-orang lain yang juga akan berkuliah di UI nantinya? Rasanya kurang masuk akal jika kampus mengklaim bahwa biaya tersebut tidak mencukupi jalannya kegiatan belajar mengajar dengan baik tanpa subsidi dari kampus. Belum lagi denda 50 % jika terlambat melakukan pembayaran kuliah, dikemanakan lagi uang itu? Jangan dikira yang terlambat cuma satu-dua orang, mungkin ada ribuan mahasiswa yang terpaksa terlambat karena lagi-lagi kesulitan dana namun malah ditodong dengan denda keterlambatan. Disamping itu pernahkan kita berfikir tentang keterlambatan-keterlambatan turunya beasiswa. Kalau rektorat mengaku keterlambatan tersebut karena adanya masalah birokrasi, apakah itu wajar terjadi di UI? Untuk ukuran Universitas Indonesia yang katanya akan menuju World Class University, bukankah seharusnya sudah tidak lagi memiliki kendala birokrasi semacam itu.Hal semacam ini yang seharusnya menyulut daya kritis mahasiswa tentang keterbukaan anggaran Universitas Indonesia. Kemana aliran dana yang dibayarkan mahasiswa, bagaimana alur subsidi silang yang katanya untuk kesejahteraan mahasiswa, berapa sebenarnya Student Unit Cost mahasiswa UI, dan kenapa turunya dana beasiswa di UI selalu sulit. Serta hal-hal terkait biaya kuliah dan alokasi anggaran UI yang semakin lama semakin tidak jelas.

Ingat kata-kata Rektor seperti ini ”saya menjamin tidak ada 1 pun mahasiswa UI yang akan dikeluarkan karena permasalahan biaya kuliah” Sekilas memang memberikan itikad baik tapi coba kita renungi lagi. Pernyataan itu cukup menggelikan, terang saja UI tidak akan mengeluarkan, toh mahasiswa seperti kita yang tidak memiliki biaya pasti dengan sendirinya mengundurkan diri. Pemakluman yang tejadi dengan pertambahan biaya kuliah yang ada tidak menampikkan jika pihak kampus akan terus menjalankan aksinya menaikkan biaya pendidikan tiap tahunnya dengan dalih-dalih yang cukup kuat menghipnotis kita semua sehingga kita hanya bisa manggut-manggut meng-iya-kan. Seperti dibuatnya fasilitas-fasilitas mewah yang mampu meninabobokan kita sehingga kita lupa dengan protes-protes kita terhadap mereka yang dulu pernah di perjuangkan kakak-kakak kita. Kini restoran mewah banyak berdiri di kawasan kampus, fasilitas dipermewah walaupun tidak berkaitan langsung dengan peningkatan kualitas akademis. Seperti hal nya gedung yang jelas-jeas dinyatakan sebagai gedung perpustakan UI yang terbesar se Asia Tenggara namun didalamnya disusupi oleh sarana pemanjaan mahasiswa dan ladang bisnis bagi para kapitalis. Tentu saja kita yang akan dimanjakan tidak mempermasalahkan hal tersebut namun sesungguhnya semua itu merupakan fatamorgana yang kemudian menjadi racun yang akan mematikan daya intelektual kita. Ini bagian dari penanaman sejak dini pemikiran kapitalis yang akan menjadikan mahasiswa menjadi mesin-mesin pemodal asing di negeri sendiri.

Oleh karena itu, marilah kawan, kita adalah mahasiswa UI yang kritis, yang dididik BUKAN UNTUK MENJADI BINATANG TERNAK, BUKAN PULA KERBAU YANG DICOCOK HIDUNGNYA. Ketika bau penyelewengan telah menyengat, maka sudah saatnya kita bertindak. Mari bersama-sama kita perjuangkan kembali hak-hak mahasiswa. Berdasarkan uraian-uraian di atas beberapa tuntutan akan kita perjuangkan, antara lain:

1. Transparansi keuangan kampus UI

2. Turunkan biaya kuliah

3. Tingkatkan fasilitas penelitian dan pendidikan kampus UI

4. Stop doktrinisasi kapitalisme dalam kampus  UI

Ini adalah kampus kita, kampus yang katanya kampus rakyat, apakah kita tega melihat kampus kita dijadikan istana bagi kepentingan segelintir orang sementara banyak mahasiswa dan generasi muda bangsa ini yang menderita dan tidak dapat menikmati pendidikan murah secara layak? Tidak! Kita mahasiswa bukan kerbau, bukan pula binatang ternak, maka mari kita sama-sama berjuang, demi kualitas pendidikan yang lebih baik!!

Selamat Hari Pendidikan!!

-FAM UI-

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • Propeller
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Twitter
UI
 

Sign up Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates, Enter your Email here:

Don't forget to confirm your email subcription

   

One Comment to “Kembalikan UI Sebagai Kampus Rakyat yang Merakyat”

  1. deni says:

    saya salah satu alumni perguruan tinggi swasta di labuhan batu,sy jg mengalami seperti saudara.yg smpai skrg sy tdk bs mengambil ijzah sy krn tdk mmbayar denda kerlambatan biaya kuliah sbesar 1jt rupiah,ap yg hrs sy lakukan?

Leave your comment here:

Please type the characters of this captcha image in the input box

Please type the characters of this captcha image in the input box