Basa basi itu sangat penting | Apa yang Kau Suka

Adsense Link 728 X 15

Basa basi itu sangat penting

December 12th, 2010 0 Comments

tulisan ini adalah sebuah ungkapan, atau sebuah kemarahan segompal hati yang bertanya…

Dalam konteks mempengaruhi orang lain untuk mengikuti frame kepribadian yang diajarkan, tentu saja basa-basi seperti itu sangat penting dan efektif.

Basa-basi itu perlu. Basa-basi sangat mempengaruhi efektifitas dalam berkomunikasi. Hanya melalui basa-basilah pesan yang sulit digambarkan secara verbal bisa mudah diterima lawan komunikasi kita. Karena efeknya yang multidimensional, sebuah basa-basi bisa diartikan salah. Kalau ini yang terjadi, tentu saja hasilnya sangat kontraproduktif dengan tujuan Anda.

Basa-basi sangat erat dengan etika. Banyak orang mengidentikan etika dengan norma, padahal masing-masing sangat berbeda arti dan makna. Secara definitif norma adalah sesuatu yang berlaku sangat umum (generalis). Sedangkan etika adalah sesuatu yang berlaku hanya dalam komunitas tertentu lebih mikro lagi situasi dan kondisi tertentu (spesialis).

Lalu mana yang diutamakan? Dalam semua tataran kehidupan, sesuatu yang berlaku spesialis selalu mendapat urutan pertama untuk diterapkan. Dalam tataran masyarakat Jawa, misalkan, terkenal ajaran “seje desa, mawa cara” (lain desa, lain pula tata cara). Ini ajaran agar setiap orang tidak menggunakan ukuran umum (general), tapi menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana seseorang akan bergaul (spesial) agar tujuan komunikasi yang dilakukan bernilai produktif.

Lebih spesialis lagi, jika menerapkan basa-basi pada komunikasi antar pribadi. Seseorang inisiator komunikasi dituntut untuk memahami lebih dulu dan menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi siapa lawan bicaranya dan dalam konteks apa yang akan dibicarakan. Ini tidak lepas dari tujuan komunikasi itu sendiri, yakni ‘mempengaruhi’ dan bukan ‘memaksa’ lawan bicara.

Rosulullah Mohammad SAW suatu saat menegur sahabatnya yang marah-marah ketika melihat orang kencing di dinding bangunan masjid. Lebih kurangnya begini cara Rosul menegur sahabatnya; “Jangan engkau cegah orang yang tengah membuang hajat. Lalu sahabat bertanya bingung; “Kenapa engkau ijinkan orang itu. Bukankah air kencing merupakan najis, dan masjid harus dijaga kesuciannya?” Rosul menjawab: “Kencing itu nikmat….” Karena basa-basi Mohammad, orang kencing tadi penasaran. Lalu ia tolah-toleh dan melihat beberapa umat tengah mengambil air wudlu. “Hai Mohammad apa yang mereka lakukan?” Rosul menjawab; “Umatku tengah membersihkan najis di tubuhnya.” Setelah dijelaskan bahwa air kencing termasuk najis, maka orang tadi dengan rela mengambil air dan mensucikan dinding masjid yang baru ia kencingi.

Dan sadarlah ia bahwa Islam mengajarkan umatnya bersih bahkan dari kotorannya sendiri. Tampak jelas, bagaimana Rosulullah Mohammad SAW lebih mengutamakan tindakan memahami situasi dan kondisi yang berlaku bagi calon umatnya. Beliau menjelaskan pada saat tepat, yakni ketika orang tadi membutuhkan penjelasan.

Dengan demikian, kata kunci untuk sukses berkomunikasi adalah gunakan basa-basi yang bersifat spesialis: “Lebih spesialis lebih efektif. Lebih efektif pasti lebih produktif”.

Contoh konkrit lainnya adalah penggunaan kalimat “Salam sejahtera…”. Ini kalimat basa-basi yang sangat umum. Ketika anda berhadapan dengan komunitas muslim, tentu lebih efektif jika Anda ganti dengan kalimat: “Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuu….”. Dan, tentu saja kalimat ini tidak tepat Anda lontarkan untuk menyapa komunitas anak muda yang tengah berada di diskotek, meski Anda tahu mereka semua muslim setidaknya muslim KTP.

Kalimat basa-basi lain yang sering digunakan tidak pada tempatnya antara lain: “astagfirullahaladziim..”, “subhanallah..”, “masyaallaah” atau “demi Tuhan..”, “Gusti Allah Maha Tahu..”, “Gusti Allah tidak sare..”, “Gusti Allah sing mbales..”, dll.

Kenapa kalimat-kalimat tersebut dikategorikan sebagai basa-basi? Secara definitif basa-basi adalah suatu kalimat yang tanpa diucapkan pun orang mengerti artinya, tapi perlu diucapkan.

Dalam konteks komunikasi vertikal antara manusia dengan Tuhan, kalimat-kalimat di atas tentu tidak bisa dimaknakan sekadar basa-basi belaka melainkan penguatan sebuah pujian, penguatan sebuah pengakuan bahwa manusia tidak ada apa-apanya dibanding Sang Khalik, penguatan sebuah kepasrahan penuh.

Dalam konteks syariah atau komunikasi horisontal, nilai kalimat-kalimat itu menurun menjadi penguatan sebuah ajakan, penguatan sebuah nasihat, penguatan spiritual, dll. Tapi bayangkan jika kalimat-kalimat itu Anda lontarkan kepada orang-orang yang sedang dalam situasi dan kondisi berbicara material?

Basa-basi menggunakan kata-kata agung “Allah, Tuhan, Gusti Allah, dll” dalam konteks material tak lebih merupakan tindakan menutup diri, tidak menunjukkan keinginan melihat sesuatu yang lebih baik. Dalam konteks yang lebih kecil, pergaulan, keluarga, rumah tangga, tindakan seperti itulah yang menjadi cikal bakal terjadinya keretakan. Seseorang akan terkesan angkuh, sombong, sok suci, bahkan munafik. Jadi, bagaimana pendapat Anda?

SENYUM adalah jendela dunia. Inilah basa-basi yang didengungkan para pakar kepribadian di John Robert Powers (JRP), sebuah lembaga pendidikan kepribadian teryahut di negeri ini.
Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • Propeller
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Twitter
 

Sign up Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates, Enter your Email here:

Don't forget to confirm your email subcription

   

No Comment to “Basa basi itu sangat penting”

  1. No Comment yet. Be the first to comment...

Leave your comment here:

Please type the characters of this captcha image in the input box

Please type the characters of this captcha image in the input box