Dan aku menangis. Menangis untuk lelaki yang paling kubenci di seantero bumi | Apa yang Kau Suka

Adsense Link 728 X 15

Dan aku menangis. Menangis untuk lelaki yang paling kubenci di seantero bumi

November 1st, 2009 0 Comments

Jakarta siang hari. Hangat kerontang sesak oleh wajah-wajah diburu waktu, sibuk berlalu lalang tak tentu arah. Perutku sudah berbunyi minta diisi. Ya, semalam si kecil sakit, badannya panas sekali, membikin aku dan istriku wajib mengalah, menganti jatah makan malam dan sarapan pagi kami dengan sebotol kecil sirup penurun panas dan seplastik bubur balita. Kucomot sebuah pisang goreng, dan sebuah lagi, lalu menenggak sisa kopi di gelas hingga tinggal ampasnya, lumayan untuk sekedar menganjal perut yang lapar. Kuambil sebatang rokok, menghisapnya dengan perasaan dinikmat-nikmatkan, wajib nikmat karena khusus hari ini apa yang kuperoleh sejatinya adalah kemewahan. Pendapatan kernet metromini sungguh pas-pasan, ditambah seorang buah hati yang sakit, wah-aku memang mesti pandai-pandai berhemat.

Dan lelaki itu datang. Lelaki yang paling kubenci di seantero bumi hingga aku sempat bertanya : kenapa Tuhan mesti menciptakan manusia buruk rupa seperti dirinya. Ya, rambutnya gondrong lusuh meriap-riap ditiup angin
kerontang. Senyum menyelingai diapit dua bilah pipi yang berliang-liang
karena bekas jerawat di masa muda. Mata mendelik merah, entah karena muak menahan kantuk atau lepas menenggak minuman keras. Dengan tubuhnya yang tinggi tegap itu dan beraroma bacin keringat, adalah modal utamanya untuk jadi preman terminal, tukang jambret pasar, jadi bromocorah tengik, jadi lintah penghisap darah orang-orang miskin sepertiku.

Kendati begitu, aku tidak takut kepadanya, aku bahkan pernah nyaris
menghabisi nyawanya. Ya, siang itu tanganku sudah bersiap dengan sebilah
kunci Inggris. Aku tegak di samping pintu bis dengan nafas memburu dan
berharap ia langsung memaki-maki saat kukatakan tidak ada setoran ini hari.
Tapi lacur, Bang Ucok, sopir bisku kesusu melarang, bisik gemetarnya
menjilat telingaku.

“Jangan konyol. Dia itu preman dan seberani apapun preman, ia tak pernah
sendirian.”

Ia sudah berdiri di hadapanku. Menyodorkan tangan hitamnya, dengan kuku-kuku panjang yang kotor. Mulutnya menebar aroma minuman keras. Aku menutup hidung, benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa muakku, kendati begitu tanganku, sesuai dengan wasiat Bang Ucok tetap saja merogoh saku dan meletakkan dua lembar ribuan di genggamannya. Ia menatapku dengan mata merahnya, seperti ingin mengucapkan sesuatu, tetapi urung karena aku keburu mengibas-ngibaskan tanganku akibat aroma tengik
minuman keras yang menyebar dari mulutnya. Ia garuk-garuk kepala lantas
berbalik masuk ke rumah makan Padang. Di sana kulihat ia melempaskan
sebungkus rokoknya, menenggak segelas kopi dan memesan sepiring nasi.
Aku kesusu mengucap asma Tuhan, takut-takut kegeraman itu menyeruak tak
terkendali dan mengantarku untuk memukul kepalanya dengan botol minuman bersoda.

Kernet bayangan terminal memberi isyarat. Bis sudah penuh. Aku berbisik malu di telinga penjual gorengan itu, ” Ngutang dulu, Mbok.” Mbok Sumi menganguk, paham akan kondisiku. Ya, aneh memang tetapi terakadang para orang miskin itu seakan direkatkan oleh hubungan batin. Bang Ucok sudah duduk di belakang kemudi, aku meloncat naik ke bis dan mulai meminta ongkos kepada para penumpang.

Bang Ucok lalu memencet klakson, isyarat kalau bis mau bergerak. Aku kesusu turun dan mulai mengatur arus lalu lintas keluar terminal. Tak ada masalah, sebentar saja, wajar aku sudah ratusan kali melakukan hal ini.

Bis berhasil keluar terminal dan Bang Ucok mulai tancap gas, aku
berlari-lari kecil dan dengan cekatan meloncat ke pintu bis. Tapi entah
mengapa ketangkasanku mendadak lenyap, handel pintu bis terasa licin dan
basah. Sial. Cengkramanku terlepas dan aku pun sontak jatuh ke aspal.
Sebuah avanza merah marun melesat cepat tepat dihadapanku. Aku menutup mata, detik itu aku siuman kalau riwayatku tamat di sini.

Namun sebelum itu terjadi, kurasakan ada seseorang yang menerjangku,
mendorongku ke tepi jalan. Lalu ada suara jeritan panjang. Takut-takut aku membuka mata, dan bersyukur kalau aku masih ada di dunia, masih bernafas dan tidak kurang satu apapun. Tetapi disampingku ada sesosok tubuh. Ya, Tuhan penyelamatku ternyata premen terminal itu, lelaki yang paling kubenci di seantero bumi. Kaki kirinya remuk redam, mungkin terlindas mobil ketika meloncat menyelamatkanku.

“Kakimu ?” Tanyaku cemas, tak bisa berucap apa-apa lagi. Lelaki itu mengerling kakinya sekilas lalu tersenyum “Selama ini kau sudah begitu baik padaku, ” katanya ” Lalu apakah aku perlu menyesal karena kehilangan sebilah kaki untuk menyelamatkanmu ? Jangan bercanda kawan.”


Dan aku menangis. Menangis untuk lelaki yang paling kubenci di seantero
bumi.

ayo dukung ane ya sobat

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • Propeller
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Twitter
 

Sign up Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates, Enter your Email here:

Don't forget to confirm your email subcription

   

No Comment to “Dan aku menangis. Menangis untuk lelaki yang paling kubenci di seantero bumi”

  1. No Comment yet. Be the first to comment...

Leave your comment here:

Please type the characters of this captcha image in the input box

Please type the characters of this captcha image in the input box